Apa itu Influencer Marketing?

1
83
Influencer Marketing

Influencer marketing kini menjadi terminologi yang sudah umum di dunia bisnis. Kita kerap melihat tren ini, di mana para selebritas yang di-endorse oleh brand tak hanya menghiasi layar TV atau iklan-iklan tradisional saja, tapi juga “mendominasi” media sosial.

Bukan hanya selebritas yang didaulat oleh para brand ini, kita juga kerap melihat travel blogger mempromosikan budget airline, seorang ibu yang menulis resep di Facebook (di mana ia menggunakan merek susu tertentu), atau fashion stylist yang berpose dengan label denim baru di Instagram.

Semua ini bisa dibilang adalah contoh influencer marketing atau pemasaran lewat influencer, yang mana didefinisikan Traackr sebagai proses pengenalan, pencarian, hingga bentuk support untuk orang-orang yang bisa membuat brand, produk, atau servis ini diperbincangkan oleh para konsumer.

Influencer marketing masih bagian dari native advertising, atau disebut juga sebagai konten berbayar yang ditampilkan dalam bentuk, fungsi, dan kualitas yang tak kalah baik.

Di balik naiknya frase “influencer marketing”, sebenarnya ini bukanlah konsep baru. Banyak yang melihat bahwa pemasaran menggunakan influencer sebagai evolusi dari fenomena pemasaran yang sangat kuat, dan sudah ada bahkan sebelum TV: word of mouth.

Ketika seorang individu menyampaikan informasi seputar produk, servis, atau brand lewat interaksi personal, itulah yang disebut pembicaraan dari mulut ke mulut/word of mouth. Cara ini adalah cara pemasaran yang sudah terbukti efektif, apalagi datang dari orang yang benar-benar menggunakan produk atau servis tersebut.

Bahkan, di era digital ini, word of mouth masih menjadi cara yang ampuh untuk pemasaran. Laporan Global Trust Advertising Nielsen menunjukkan bahwa 83% konsumer mempercayai rekomendasi dari orang yang mereka kenal. Angka ini lebih tinggi dari iklan di TV, yang dipercaya oleh 63% konsumer.

Lewat media sosial, bagaimana pun, interaksi personal melampaui percakapan di antara keluarga, teman, bahkan kolega, namun terjadi secara online. Interaksi yang terjadi bahkan kini semakin luas karena tak hanya melibatkan interaksi dengan orang yang kita kenal namun juga dengan orang-orang yang belum pernah kita temui sebelumnya.

Persona-persona menarik dan inspiratif yang belum pernah Anda temui namun Anda follow di Facebook, Twitter, Instagram, atau platform media sosial lainnya, termasuk blog, itulah yang kita sebut influencer.Mereka memperkuat strategi word of mouth lewat koneksi mereka di media sosial.

Jika Anda berpikir bahwa definisi influencer adalah orang-orang yang mempunyai ratusan, ribuan, bahkan jutaan follower saja, Anda salah. Dalam hal follower/pengikut, influencer bisa dikategorikan sebagai mega-influencers, macro-influencers, atau micro-influencers, dan bekerja bersama tipe-tipe ini akan memberikan keuntungan yang cukup baik.

Mega-influencers punya follower mencapai jutaan. Biasanya, mereka adalah selebritas yang menggunakan media online untuk berhubungan dengan fan base yang sudah ada sebelumnya. Dengan jumlah pengikut yang besar ini, bagaimana pun, engagement para influencer ini terbatas dari 2 – 5 %.

Macro-influencer mempunyai 10 ribu sampai 1 juta follower, dan engagement mereka sekitar 5-25%. Jumlah follower micro-influencer mungkin lebih rendah dari 500, tapi dengan audiens yang kuat afinitasnya, mereka bisa meraih engagement hingga 50%.

Sangat penting bagi Anda untuk menentukan influencer yang tepat untuk brand dan objektif Anda. Bekerja dengan mega-influencer, misalnya, sangat baik untuk brand awareness, namun kampanye micro-influencer terbukti punya performa yang baik dalam hal engagement dan konversi.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here