Etika Bersosial Media. Perlu Atau Tidak?

1
40
Etika Bersosial Media

Dewasa ini sosial media telah menjadi hal yang tak bisa lepas dari kebanyakan masyarakat. Hampir semua orang, tanpa memandang usia, gender, profesi, agama, dan suku bisa terhubung lewat sosial media dengan berbagai platform-nya. Kini, seseorang bisa dengan mudah mendapatkan dan membagikan informasi ke seluruh belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat.

Tentu, dengan makin banyaknya pengguna, makin banyak juga terjadi penyalahgunaan sosial media yang akhirnya harus berujung pada ranah hukum sebagai konsekuensi.

Hal ini sampai akhirnya melahirkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang di dalamnya ada beberapa pasal yang mengatur etika bersosial media. Yang diatur di Undang-Undang ini meliputi konten yang tidak selayaknya diunggah maupun penyebaran hoaks dan ujaran kebencian, termasuk juga menjebol data tanpa izin. 

Kali ini kita akan membahas hal yang paling simpel dalam penggunaan sosial media, yaitu etika sosial media dan kenapa hal ini sangat diperlukan. Namun sebelumnya, kita simak sedikit tentang fenomena booming-nya sosial media dan akibat yang dihasilkannya.

Baca juga Media Sosial Pertama di Dunia!

Abad Sosial Media dan Problemanya

Dilansir dari berbagai media, di tahun 2021 pengguna sosial media tembus hingga 202 juta orang lebih. Sosial media yang awalnya ditujukan untuk menghubungkan kenalan dan kerabat, kini digunakan untuk berbagai hal, mulai dari pemasaran produk, berita, creative hub, perawatan kesehatan, pencarian kerja, hingga ke ranah politik. Facebook, LinkedIn, Twitter, Instagram, TikTok, dan lainnya telah secara signifikan mengubah cara berkomunikasi, berorganisasi dan citra personal. Jadi, masa kita hidup saat ini bisa dibilang sebagai abad sosial media.

Dengan adanya hal ini, tentu mengakibatkan banyak hal besar dalam kehidupan, salah satu yang paling nyata adalah penyampaian pendapat menjadi lebih mudah. Hanya lewat ketikan di gadget pribadi masing-masing, apa yang dipikirkan dan dirasakan bisa langsung disebarkan di akun pribadinya. Sayangnya, pendapat yang kita sampaikan bisa tersampaikan langsung ke khalayak luas tanpa adanya filter atau editorial, berbeda dengan platform ‘tradisional’ seperti surat kabar, radio, dan televisi. Di sosial media, setiap orang dapat adalah editor untuk dirinya sendiri, yang akhirnya bisa menimbulkan kontra dari pendapat yang tersampaikan.

Etika Sosial Media

Kebebasan seharusnya diiringi dengan kedewasaan. Ini yang perlu menjadi landasan, terutama untuk kita, para pengguna sosial media. Kita sering lupa, bahwa lawan bicara atau yang menyimak konten kita adalah manusia juga dan pada dasarnya kita seperti berbicara langsung pada mereka. Hal ini yang sering luput menjadi pertimbangan sebelum membagikan sesuatu di sosial media. 

Berikut adalah beberapa etika dalam sosial media yang perlu dipahami dan dilakukan:

Pemilihan Kata Yang Digunakan

Untuk mengurangi kesalahpahaman dalam bersosial media, hendaknya kita selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar. Penting untuk dipahami, bahasa yang baik pun kadang bisa menyinggung, apa lagi jika kita menggunakan bahasa yang kurang baik.

Upayakan menulis apa yang menjadi pendapat kita secara jelas agar pesan yang ada tersampaikan dengan baik. Hindari penggunaan kata atau frasa yang multitafsir. Sederhananya, setiap orang pasti akan memaknai hal secara berbeda, setidaknya dengan menggunakan bahasa yang, umum, jelas dan lugas, kamu bisa meminimalisir risiko menimbulkan kesalahpahaman.

Baca juga Media Sosial Pertama di Dunia!

Menghargai Pendapat Orang Lain

Idealnya, menghargai orang lain tak hanya dilakukan pada saat berkomunikasi secara langsung, namun juga pada saat menggunakan sosial media. 

Dalam hal penyampaian pendapat, memang tidak semua orang bisa sepemikiran. Pada sosial media, menghargai orang lain bisa dilakukan dengan membaca dan memahami konteks pendapat orang lain, memahami latar belakang pemikiran, baru kemudian berkomentar. Sebelum menyampaikan pendapat pun, perlu lebih dipikirkan lagi nantinya apa yang kamu tulis apakah akan menyinggung profesi, agama, atau hal-hal tertentu lainnya. Luangkan sedikit waktu untuk lebih memahami apa yang akan ditulis dan dibaca.

disukai orang dalam bersosial media

Overposting

Yang satu ini kaitannya dengan pengendalian diri kita juga. Memposting sesuatu di akun pribadi adalah hak kita semua, namun melihat feed yang ‘segar’ juga hak kita juga. Tentunya dahi kita akan berkerut, jika dalam satu waktu kita hanya melihat postingan dari orang yang sama dalam jumlah yang sangat banyak. Walaupun maksudnya baik, misalnya ingin berbagi informasi, namun terlalu banyak memposting konten, tak jarang akan menimbulkan persepsi negatif dari teman dunia maya kita. Tentukan kapan dan berapa jumlah postingan yang akan kamu bagikan dalam sehari, anggap saja kita menjadi seseorang yang sedikit berkata, namun apa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang padat, jelas, dan informatif, ketimbang kita menjadi seseorang yang banyak bicara namun tidak tentu arah tujuan pembicaraannya.

Awas, plagiat!

Salah satu bentuk lain beretika dalam sosial media adalah menghargai hak atas kekayaan intelektual. Kita bisa saja terpengaruh atau memiliki referensi untuk berpendapat, namun ada baiknya kita tidak dengan sengaja meniru atau menggunakan pemikiran orang lain yang nantinya dijadikan keuntungan untuk diri sendiri. Jangan salah, di era informasi yang sangat maju ini, kita bisa dengan mudah menemukan apakah sebuah pendapat atau karya itu murni dari pemikiran orang yang memposting atau sebuah plagiat. Makanya, jangan sampai salah langkah dalam bersosial media hanya karena ingin memiliki konten yang banyak disukai. 

Yang bisa dilakukan adalah menyertakan sumber asli jika memang kita mengutip atau menggunakan gagasan orang lain.

Baca juga Media Sosial Pertama di Dunia! 

Memiliki dan menghargai etika dalam bersosial media sangat penting untuk dilakukan saat ini, terlebih di ranah yang makin riuh ini. Harapannya, jika etika sosial media ini ditegakkan banyak orang, maka sosial media akan menjadi sarana yang produktif, positif dan informatif sehingga bisa bermanfaat untuk banyak orang. ‘Atmosfir’ panas yang bisa terjadi karena perbedaan pendapat di sosial media, bisa terminimalisir dengan signifikan. Yuk, lebih beretika dalam menggunakan sosial media.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini